Wednesday, February 8, 2017




Akuku






Saat pengabdianku yang masih seujung kuku 

terlihat berarti bagimu,

Di situ aku semakin tahu.

Yakin sepenuh hatiku,

bahwa keagungan cintamu begitu besar kau curahkan padaku.

Dengan sepenuh hati kau meyayangku.

Sepenuh jiwa kau berikan hati putimu untukku.

Maka apa lagi yang harus kutuntut darimu,

Bila kasih seluas samudera telah kau tuang di hatiku?

Maka apa lagi yang hendak kupinta darimu,

Bila rindu nan agung selalu kau gaung?

Adalah salahku, karena hanya membagi separoh hati buatmu.

Adalah dosaku, bila berpaling dari cinta tulusmu.

Dan akan jadi sesal seumur nafasku

Bila aku berlalu dan pergi menghindar rindumu.

Inilah dusta terbesarku,

Mencoba kokoh saat jauh darimu.

Mencoba tegar berpisah lama darimu.

Karena sesungguhnya aku teramat merindu hadirmu.

Kejora nan ceria itu tlah jadi milikku.

Maka bahagiaku adalah karena kau kerlib di hatiku.





Banaran, 18 Januari 2017   09.46 pm




Labuhku






Di sebuah bilik kecil sederhana penuh makna.

Bersamanya aku merasa ada dan berguna.

Membina mahligai penuh cinta.

Semerbak dengan wangian surga.

Inilah bahtera yang kami punya.

Mengangkat sauh melintas samudera raya.

Arungi duka bernuansa derita.

Mengepak sayap bahagia berselimut canda ria.

Tangis dan airmata tak lagi berguna,

Karena bersamanya aku tlah belajar tentang segala.

Bahwa hidup penuh cabar dan dera.

Menghunjam.

Menikam.

Remukkan sendi kasih sayang.

Patahkan tulang cinta nan rawan.

Namun tangguhlah penuh keyakinan,

Bahwa kasih dan kepercayaan yang kau iringkan,

Pada saatnya bermahkota keabadian.





Banaran, 18 Januari 2017    09.32 PM

Sunday, October 16, 2016



Pengakuan




Selapis mendung bergayut, kabut.
Selaksa aroma menggoda, kerisik rumput mayapada.
Ribuan cahaya terangi gulita, kejora.
Bahkan bayu sempat mengusik rentan dalam keringkihan,
berupa badai yang meresahkan.

Namun itu bukan apa-apa.
Hujan dan topan justru bangkitkan, 
semangat baja
dalam dunia sunyi yang mereka punya.


"maka nikmat mana lagi yang hendak kau dustakan?"

kalimat penyegaran, membuat jiwa gersangku bangkit dari kegelisahan.

Gunung Ungaran,
saksi kebersamaan dan kesetaraan,
bagi sahabat yang selama ini terasing dalam kesunyian.
Sebuah sukses telah diraih dengan kegemilangan.
Tak perlu diragukan, jangan lagi dikecewakan.
Inilah langkah awal menuju mimpi yang akan mereka wujudkan.

Bersama demi KESETARAAN.
Jalin kasih dalam persaudaraan.
Indahnya kasih sayang dari Maha Rahman.

Aku ada di antara mereka 
yang terasing dalam sunyi panjang....
meluruh diri dalam kebahagiaan.
Keharuan menerjang,
penuhi kalbu dengan kesyukuran.